TIPS & ARTIKEL

Siang Jadi Pegawai Bank, Sore Melatih Empat Marching Band

irwanto | Rabu, 29 Januari 2014 - 13:30:56 WIB | dibaca: 1983 pembaca

Jakarta - Saat beraksi biasanya orang akan takjub melihat penampilan marching band. Baik karena harmoni suara dan gerak, belum lagi soal keceriaan kostum personilnya.

Tapi ada hal-hal yang tak disadari orang bahwa yang mereka tampilkan adalah buah kerja keras berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Tak ada posisi sepele dalam marching band. Mulai dari pemain perkusi, pemain alat musik tiup, bahkan juga pelatih.

Khusus untuk pelatih, biasanya pekerjaan belum selesai kala waktu berlatih untuk mendisiplinkan, memberi materi, memantau perkembangan dari sekitar 200 personil di satu kelompok marching band usai.

Belum lagi elemennya yang berbeda-beda. Kostum, musik, tarian, gerakan baris- berbaris. Jelas jadi pelatih marching band bukanlah pekerjaan mudah.

Uniknya, Kinardi salah seorang pelatih marching band senior di Indonesia menjalani profesi ini sebagai sampingan. "Aku dulu pagi hari kerja di bank, malamnya membuat musik sampai larut, paginya kerja lagi," ujarnya kepada detikHOT (27/01/2014).

Ternyata pada masanya menjadi pelatih marching band untuk kelompok sekolah itu bayarannya tak seberapa. "Dibayarnya enggak besar, kalau untuk sekolahan jaman dulu paling seratus ribu, kalau yang bayar saya besar biasanya perusahaan."

Bahkan musisi sekelas Addie MS, pernah terheran-heran dengan sosok Kirnadi. Karena pria yang akrab disapa Maskir ini pernah melatih empat kelompok marching band secara bersamaan.

Mengatur empat kelompok marching band besar sekaligus bekerja normal sebagai pegawai bank juga membuat banyak pelatih dari negara lain heran.

Buat Kirnadi tak ada yang tak mungki asal tahu kuncinya. "Yang pertama mengerti semua unsur dan pondasi dari marching band. Kedua memiliki kemampuan dalam bermusik, yang ketiga adalah kerja keras," katanya menjelaskan.

Pria berusia 70 tahun ini berharap marching band di Indonesia harus bisa menyatu. Karena pada dasarnya marching band memiliki prinsip yang sama, yakni soal pendidikan.

"Saya juga berharap, marching band di Indonesia bisa punya wadah sendiri. Yang sekarang ada hanya persatuan Drum Band Indonesia, terus di dalamnya termasuk marching band, kita jadi tidak bisa bergerak bebas."
 










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar